(Pengantar) Tujuan Ekonomi Islam

Pengatar*

Islam bukanlah agama yang mengajarkan kerahiban[1] . Islam tidak hadir untuk menjauhkan manusia dari berbagai anugerah dan kenikmatan yang telah Allah, Tuhan semesta alam, berikan. Tentang ini Allah berfirman

“Katakanlah: “”Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?”…” [QS Al A`raf (7) : 32]

Islam tidak melihat manusia sebagai makhluk terhina karena dosa yang ia bawa sejak lahir, namun dalam pandangan Islam manusia adalah makhluk yang terhormat sebagai khalifah atau wakil Allah ta`ala dimuka bumi ini. Tentang penciptaan manusia pertama , Allah berfirman

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” [QS Al Baqarah(2):30] Dimana untuk menjalankan peran ke-khalifahan itulah Allah menyediakan segala sesuatu di bumi ini. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [QS Al Baqarah(2):29]

Sehingga dalam ajaran Islam, kebaikan atau keberhasilan seorang manusia tidak dilihat dari bagaimana ia menutup dirinya terhadap anugerah yang telah disediakan oleh Allah ta`ala, namun pada kemampuan untuk menikmati dan memanfaatkannya dalam kerangka nilai-nilai kehidupan yang benar. Melalui nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya, Islam bertujuan memajukan kesejahteraan manusia.

Nilai-nilai kehidupan yang benar yang diajarkan dalam Islam mencakup semua aktivitas kehidupan manusia. Dalam Islam, tidak ada aktivitas kehidupan yang secara total hanya bersifat duniawi. Semua tindakan dalam aktivitas apapun, termasuk aktivitas ekonomi, dapat memiliki nilai spiritual selama tindakan tersebut selaras dengan tujuan dan nilai-nilai Islam. Dalam masalah ekonomi, tujuan dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam inilah yang menentukan sifat serta bentuk sistem ekonomi Islam.

Oleh karena itu, pemahaman yang baik terhadap tujuan dan nilai-nilai dasar dari ajaran Islam sangat penting untuk dapat memahami sistem ekonomi Islam. Tujuan dan nilai-nilai tersebut diantaranya adalah

1. Kesejahteraan ekonomi dalam kerangka nilai-nilai moral Islam

2. Persaudaraan dan Keadilan universal

3. Distribusi pendapatan yang adil

4. Kebebasan Individu dalam konteks kesejakteraan sosial.

Tujuan dan nilai-nilai Islam tidaklah terbatas pada hal-hal yang disebutkan diatas. Namun hal-hal diatas diharapkan cukup untuk menjadi acuan dalam usaha memahami lebih jauh tentang sistem ekonomi Islam. Hal-hal diatas juga diharapkan mencukupi untuk dapat melihat karakteristik pembeda antara sistem ekonomi Islam dengan dua sistem lain yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.

Catatan Kaki :

[1] Allah berfirman “…Dan mereka mengadakan kerahiban padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka  “ [QS Al Hadid(57):27]

Suatu saat setelah Rasulullah shallallahu`alaihiwasallam menyampaikan pelajaran bahwa Hari Pembalasan pasti datang dimana tiap manusia akan bertanggung jawab dihadapan Allah, sebagian sahabat berkumpul dirumah `Utsman bin Maz`un. Lalu mereka bertekad untuk malaksanakan puasa setiap hari, melaksanakan sholat setiap malam dan tidak tidur, tidak memakan daging dan lemak, tidak menikah, tidak memakai wewangian, hanya menggunakan pakaian yang kasar, dan secara umum mereka bertekad untuk menolak kenikmatan-kenikmatan dunia. Lalu Rasulullah shallallahu`alaihiwasallam mendengar hal ini dan berkata kepada mereka :

“ Saya tidak diperintah oleh Allah untuk hidup dengan cara seperti itu. Tubuh kamu memiliki hal atasmu, karenanya berpuasalah namun juga meninggalkannya di hari lain, sholatlah dimalam hari namun luangkan pula waktu untuk tidur. Lihatlah saya, saya sholat dan juga tidur di malam hari, saya berpuasa namun juga meninggalkannya di sebagian hari, saya memakan daging dan lemak, dan saya pun menikah. Maka barangsiapa berpaling dari ajaranku bukanlah bagian dari ummatku. “(Simak komentar terhadap QS Al Maidah85) :87 dalam Al Kashshaf, Beirut, 1947, v1, p.67; dan Tafsir Al Qur`an Al Azhim oleh Ibnu Katsir, Cairo, 1955 v.2, p.87-88; Bukhari, Cairo, n.d. v.3, pp.49-50; Muslim, Cairo, 1955 v.2, p.812-818; Darimi, Damascus, 1349 A.D, v.2, p.133)

*dari buku Objectives of the Islamic Economic Order oleh Muhammad Umar Chapra, The Islamic Foundation 1979. [Dalam rangka belajar dan baca bersama buku Ekonomi Islam di Midori-ISC Tokodai]

Leave a comment »

Hutang Jimaeshugi-nya Pa Karno

Dalam bukunya `Gaishi`, T.W. Kang menyebutkan beberapa masalah yang akan dihadapi oleh perusahaan asing yang hendak mencari pasar di jepang. Selain prinsip QCDS, dimana pasar jepang memiliki tuntutan yang tinggi terhadap Quality, Cost, Delivery, dan Service, hambatan lain yang mungkin dihadapi adalah kecendrungan pasar jepang untuk tidak percaya pada barang yang tidak di buat di jepang, beliau mengistilahkan `not manufactured here syndrome`.

Kang melanjutkan, bahwa dalam filosofi bangsa Jepang prinsip ini disebut `Jimaeshugi`yaitu konsep untuk membuat atau memproduksi sendiri di dalam negeri daripada memanfaatkan komponen, alat, atau keahlian dari luar negeri.

Prinsip Jimaeshugi ini diantaranya berasal dari keadaan ketika terjadinya Restorasi Meiji dimana kedatangan pasukan-pasukan barat ke pelabuhan-pelabuhan Jepang tak dapat dibendungi lagi, terlebih dengan kenyataan bahwa pasukan tersebut memiliki teknologi persenjataan dan pendukung lainnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan apa yang dimiliki bangsa Jepang saat itu. Kondisi itu membangun tekad mereka untuk tidak pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama. Sejak itu bangsa ini berusaha untuk menyerap teknologi dan kemampuan lainnya dari bangsa asing, hingga akhirnya akumulasi dari kemampuan-kemampuan tersebut membuat mereka unggul.

Secara itung-itungan untung rugi jangka pendek, prinsip untuk memproduksi semuanya jelas tidak menguntungkan. T.W Kang pun mengutip pernyataan pimpinan perusahaan di Amerika yang mengatakan `We don`t make what we can buy`. Sedangkan pimpinan perusahaan Jepang cenderung untuk tetap memproduksi salah satu komponennya sendiri meskipun dalam jumlah yang belum kekejar economic of scale-nya. Ketika ditanya tentang keputusan tersebut muncul alasan bahwa dengan itu maka perusahaan bisa mengkontrol sendiri ketersediaan komponen tersebut, menjaga rahasia perusahaan, dan yang terakhir terkait dengan pelayanan pada pelanggan karena dengan mampu mengkontrol semua aspek dari produksi sendiri perusahaan mampu memberi solusi/kepuasan kepada pelangga dengan lebih baik.

Ok..cukup tentang Jimaeshugi-nya bangsa Jepang. Membaca tentang prinsip Jimaeshugi ini jadi teringat prinsip yang bahkan menjadi tema pidatonya Pa Karno yaitu BERDIKARI, BERdiri DI atas KAki sendiRI. Dalam pidato tahun 1964 beliau mengemukakan tiga prinsip yaitu berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.  Dalam buku Pa Karno, Sarinah, beliau pun menyatakan

” Seluruh kepulauan Indonesia saling membutuhkan diri satu sama lain, seluruh kepulauan Indonesia baruhlah menadi satu dasar ekonomis yang kuat bagi industrialisme, jika bergandengan ekonomis satu sama lain, isi mengisi satu sama lain, bantu membantu satu sama lain.”

masih di buku yang sama Pa Karno pun mengatakan

” …Nasionalisme Indonesia itu mempunyai sumber-sumber, mempunyai `penghidup – penghidup`, dan penghidup-penghidupnya itu ialah tenaga-tenaga masyarakat (sociale krachten) yang hebat dan kuasa, dinamis dan revolusioner, tidak tertahan oleh tenaga apapun juga, meski tenaga imperialisme yang bersenjatakan tentata dan armada.”*

Prinsip Berdikari ini tidak berarti menutup diri dari kerja sama dengan negara lain, yang penting adalah bagaimana kerjasama itu tidak membuat kita menjadi pihak yang lemah dan bergantung kepada partner kerjasama tersebut. Sebagaimana juga ditekankan oleh Pa Karno dalam pidato Nawaksara berikut :

“…bahwa berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama Internasional, terutama diantara semua Negara yang baru merdeka. Jangan ditolak, yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialisme, bukan kerjasama yang sama derajat dan saling menguntungkan. “

Yap, prinsip Jimaeshugi dan Berdikari sepertinya memang mirip..hanya memang sangat disayangkan berbeda dengan Jepang yang telah menjalani prinsip Jimaeshugi-nya, prinsip Berdikari sepertinya berakhir di `pidato presiden` tanpa sempat untuk lebih lanjut mengimplementasikan konsep tersebut. Konsep Jimaeshugi-nya Jepang telah membawa bangsa ini menjadi bangsa besar yang tidak hanya mampu melayani kebutuhan warganya, tapi juga memenuhi kebutuhan hidup bangsa-bangsa lain.

Ok, setidaknya konsep ekonomi Berdikari yang dipidatokan pada tahun 1964 tersebut sudah tercatat dalam sejarah bangsa ini sebagai sebuah tekad yang belum terlaksana. Semoga tekad ini masih tersimpan kuat di benak para pemuda-pemudi, para pewarna bangsa ini, di manapun lapangan bermain mereka.

(Note: Kutipan pidato Pa Karno diambil dari `Fuadhillah, Dani (2010) Ekonomi Berdikari Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Pemikiran Sukarno Tentang Ekonomi). Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.`)

Leave a comment »

BUMN : Terminal Aktualisasi Inovasi Nasional ?

 

BUMN lahir dengan filosofi yang sangat kuat dalam sistem kenegaraan kita, lahir sebagai alat untuk dapat memaksimalkan potensi bangsa baik potensi alam, potensi budaya, maupun sumber daya manusia sebagai penunjang bagi tercapainya kesejahteraan warga.

Secara mendasar BUMN diharapkan bisa menjadi alat untuk pemenuhan kebutuhan  masyarakat hingga memiliki standar kehidupan yang baik. Setidaknya potensi-potensi internal yang dimiliki bangsa ini baik berupa kekayaan alam, budaya, iptek, dan sumber daya manusia bisa digunakan seoptimal mungkin bagi pemenuhan kebutuhan atau kesejahteraan masyarakat. Lebih jauh bahkan BUMN diharapkan bisa berperan pada tataran internasional dengan memberikan pelayanan (berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan) bagi bangsa-bangsa lain. Sebagaimana saat ini kita menikmati pelayanan dari industri-industri bangsa lain. Misalnya layanan untuk mengolah hasil bumi kita bahkan juga untuk (sekedar) mengambilkan kekayaan alam yang terlalu susah bagi kita untuk mengambilnya karena ketiadaan kemampuan kita. Juga kebutuhan sehari-hari kita seperti alat komunikasi dan transportasi yang hingga saat ini kita nikmati sebagai bentuk pelayanan industri bangsa-bangsa lain.

Untuk itulah kita memiliki BUMN di berbagai bidang kehidupan, mulai dari hasil bumi, pertanian dan perkebunan, transportasi, telekomunikasi, industri semen, industri baja, dst. BUMN pun diharapkan menjadi pelopor yang bisa memicu lahirnya industri-industri swasta di bidang terkait.

Sangat disayangkan, peran ini dirasa belum dimainkan secara optimal. Misalnya, dengan potensi sumber daya pertanian dan perkebunan juga keberadaan BUMN dalam bidang terkait, sebagai bangsa kita masih belum mandiri untuk dapat memenuhi kebutuhan bangsa sendiri. Terlebih untuk berharap dapat melayani bangsa lain dengan menjadi salah satu pemasok produk-produk pertanian atau perkebunan di kancah internasional.

Ketidakmampuan BUMN kita dalam memainkan perannya disebabkan oleh lemahnya kemampuan teknis dan manajemen pada BUMN kita tersebut. Lalu bagaimana inovasi-inovasi yang lahir dari universitas dan lembaga-lembaga penelitian mendukung BUMN mengatasi hal ini ? Bisakah kita menjadikan BUMN sebagai terminal inovasi nasional kita ? Tempat  dimana inovasi anak bangsa yang terlahir dari pusat-pusat inovasi di universitas maupun di lembaga penelitian mendapatkan aktualisasi nyata. Inovasi tersebut diharapkan tidak berakhir sebagai kumpulan berkas, atau kumpulan sertifikat penghargaan namun menjadi sebab-keunggulan BUMN kita pada bidang terkait. Inovasi bisa berupa inovasi teknis ataupun inovasi manajemen yang seringkali dikeluhkan dari BUMN-BUMN kita.

Darimana kita berawal ? para innovator berinovasi lalu BUMN menyesuaikan `jualan` mereka ? atau para innovator membatasi lingkup target inovasinya pada permasalahan-permasalah yang dihadapi oleh BUMN ? Kedua skema diatas bisa saja dijalankan beriringan, namun skema kedua sepertinya perlu memiliki prioritas utama pada saat ini.

Perubahan perlu dilakukan oleh kedua pihak, para innovator dan penentu kebijakan di BUMN atau lembaga pemerintah terkait. Para innovator perlu bersabar untuk mengarahkan hasrat inovasinya pada permasalahan-permasalahan yang memang dihadapi BUMN.  Di sisi lain, BUMN diharap tidak lagi hanya memiliki perspektif profit jangka pendek dan memperhatikan profit jangka panjang dan kemandirian.

Hadirnya kepemimpinan baru di BUMN saat ini diharap bisa menjadi momentum menuju perubahan ini. Hubungan saling membangun antara BUMN dan sumber-sumber inovasi nasional perlu ditingkatkan. Berkembangnya BUMN sehingga mampu memainkan perannya bagi kemandirian bangsa bahkan berkontribusi terhadap dunia internasional dapat dijadikan parameter untuk menilai efektivitas kolaborasi BUMN dan sumber-sumber inovasi.

Leave a comment »

Membangun Jiwa Kepemimpinan dengan Sifat Tauhid dan Semangat Pengorbanan

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.
Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah
Tiada ungkapan yang paling indah pada pagi hari ini melebihi kesyukuran kepada Allah ? dengan melantunkan takbir, tahmid dan tahlil. Semangat berkurban yang merasuk ke dalam jiwa kaum mukminin, membangkitkan keimanan untuk senantiasa beramal saleh dan berbuat untuk agama Allah ?. Semuanya dilakukan atas dasar bakti dan syukur kepada Allah ?, sehingga berbuah kebahagiaan yang bermuara pada ungkapan Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu, Walillahi al-Hamdu.
Penyembelihan hewan kurban pada setiap Idul Adha senantiasa mengingatkan umat Islam pada perintah Allah ? kepada kekasih dan rasul utusanNya, yaitu Nabi Ibrahim ? untuk menyembelih anak semata wayangnya pada saat itu, yaitu Ismail ? sebagai ujian terberat dalam kehidupannya. Perintah ini dipatuhi oleh Nabi Ibrahim ?, namun penyembelihan anak kesayangannya pada akhirnya terganti dengan seekor domba jantan, maka syariat ini dikekalkan hingga akhir zaman. Kepatuhan terhadap perintah Allah ? mengantar Nabi Ibrahim ? menjadi sosok pemimpin yang kuat. Keteguhan Nabi Ibrahim ? dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ? mengukuhkannya sebagai tokoh yang patut diteladani, sebagaimana firman Allah ?:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” QS. al-Nahl(16): 120.
Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu pelajaran penting dari sosok Nabi Ibrahim ?. Sifat ini membuat Nabi Ibrahim ? sebagai qudwah (teladan) di dalam menjalankan agama secara sempurna. Allah ? mengisahkan di dalam Alquran sifat utama Nabi Ibrahim ? ini dalam menyikapi pelanggaran terhadap ajaran agama, khususnya perkara kesyirikan yang dilakukan oleh penguasa, masyarakat atau bahkan hingga oleh ayahnya sekalipun. Dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan ayahnya, dan dengan Raja Namruz di dalam Alquran menegaskan jiwa kepemimpinan yang kuat ini, sehingga Allah ? berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim ? dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata.” QS. al-Mumtahanah(60): 4.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadikan penguasa suatu bangsa sejajar dengan penguasa bangsa lain atau bahkan lebih mulia, sehingga tidak mudah didikte oleh bangsa manapun kecuali jika sejalan dengan keinginan Allah ?. Kisah Nabi Sulaiman ? dengan Ratu Balqis yang memiliki kekuasaan agung adalah contoh dari sifat ini, Nabi Sulaiman ? tanpa ragu dan rasa takut meminta kepada Ratu Balqis untuk datang menjumpainya dan mengikuti ajaran tauhid yang dibawanya, “Janganlah kalian bersikap sombong kepadaku, namun datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Atau Rasulullah ? yang berkirim surat kepada para penguasa di negara-negara adidaya pada zamannya dan mengajak mereka untuk memeluk Islam sebagai agamanya, “Saya mengajak anda untuk menganut agama Islam, niscaya anda akan selamat (di dunia dan akhirat) dan kekuasaan anda akan bertahan”, demikian seruan Rasulullah ? kepada para penguasa ini, di antaranya adalah Kaisar Romawi dan Persia.
Jiwa kepemimpinan menjadikan seseorang sebagai qudwah (teladan) bagi sesama umat manusia di dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah ? sebagai doa orang-orang beriman:
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. QS. al-Furqan(25): 74.
Menurut Ibnu Abbas ?, yaitu pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.
Keteladanan sikap dan perilaku yang sesuai dengan perkataan, merupakan nilai moral yang dibutuhkan oleh suatu bangsa untuk maju dan disegani. Tumbuhnya kepercayaan dalam diri setiap anggota masyarakat terhadap pemimpinnya disebabkan oleh sifat keteladanannya, sehingga menjadi dasar terhadap pelaksanaan segala kebijakan yang bertujuan membangun kesejahteraan mereka.
Jiwa kepemimpinan juga menjadikan suatu bangsa dapat membangun peradaban yang tinggi dan mampu bertahan dengan peradaban itu. Tidaklah peradaban bangsa-bangsa besar pada zaman dahulu dapat terbangun dan bertahan kecuali karena mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Kekuasaan masing-masing bangsa terbentuk menjadi suatu kekaisaran (imperium) yang memiliki wilayah begitu luas, demikian pula umat Islam yang memiliki wilayah pemerintahan sangat luas dan pengendalian yang kuat terhadap wilayah-wilayah tersebut, khususnya pada masa pemerintahan khulafa’ rasyidun. Pemerintah Islam pada zaman itu berhasil membangun peradaban dunia yang berlandaskan pada ajaran Alquran, berkat jiwa kepemimpinan para khalifahnya. Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Ibrahim `alaihissalam Pembangun Keluarga Pejuang

Comments (3) »

Habibie : “No Energy…No Synergy “

“…semuanya itu hanya bisa berfungsi jika energinya ada..tanpa energi no synergy of everything untuk menghasilkan nilai tambah..”

Berikut speech dari Pa Habiebie dalam acara Pernyataan Sikap “ PLTN Menjamin Ketahanan Penyediaan Listrik Nasional” yang dikeluarkan oleh Lima LSM. PLTN merupakan salah satu kandidat penyedian energi nuklir nasional yang sejak lama sudah disiapkan oleh bangsa ini.

Leave a comment »

CANDLE Reactor…Innovating to Zero?

“Have you seen the article in this morning’s Nikkei about Thosiba and Bill Gates ? Isn’t it about your reactor ? “

Demikian pesan yang diterima oleh Prof. Sekimoto dari rekannya melalui email pada tanggal 23 maret 2010. ‘Your reactor’ yang dimaksud oleh rekannya tersebut adalah CANDLE reactor yang merupakan kulminasi dari riset beliau terkait desain reaktor nuklir.  CANDLE reaktor adalah sebuah konsep reaktor nuklir dimana proses pembakaran bahan bakar dapat dianalogikan dengan terbakarnya lilin. Daerah pembakaran bergerak sepanjang sumbu reaktor dengan kecepatan sebanding dengan keluaran energi. Distribusi rapat atom, fluks neutron, dan rapat daya dalam daerah pembakaran tersebut tidak berubah dalam proses penjalaran tersebut. Fenomena penjalaran ‘daerah pembakaran’ ini membuat reaktor tipe ini juga disebut traveling wave reactor.

Berikut adalah video pemaparan Bill Gates tentang solusinya untuk mengentaskan kemiskinan. Pertimbangan untuk mencari sumber energi , yang merupakan faktor vital dalam proses pengentasan kemiskinan, juga dipasangkan dengan perhatian terhadap lingkungan. Sumber energi yang dicari haruslah sama sekali tidak menghasilkan CO2…inilah yang beliau maksud Innovating to Zero.  Nuklir reaktor dengan cara bakar tertentu merupakan salah satu solusi terbaik menurut pertimbangan beliau, bahkan Bill Gates pun berinvestasi untuk mengantarkan konsep yang diformulasikan oleh para ilmuwan dan insinyur reaktor nuklir ke ranah industri. ‘Cara bakar tertentu’ inilah yang dikalangan peneliti reaktor nuklir merujuk pada ‘Candle Reactor’ yang formulasi formal dan analisis untuk berbagai tipe reaktor dihasilkan dari penelitian Prof.Sekimoto dan murid-muridnya. Meski konsepnya telah dipublikasi di akhir tahun 80-an oleh ilmuwan Rusia.

Ide bisnis reaktor nuklir ini dijalankan melalui TerraPower. Perusahaan baru dengan visi besar dan melibatkan banyak praktisi dan ilmuwan nuklir nomor wahid. Seminar INES 3 (Innovative Nuclear Energy System 3) yang diadakan di Tokyo Tech. beberapa hari ini salah satunya mengumpulkan para desainer reaktor nuklir yang memiliki perhatian terhadap tipe reaktor inovatif ini, juga mengundang TerraPower untuk memaparkan konsep dan status terakhirnya.

John Gilleland, CEO TerraPower, dalam presentasinya kemarin sore memaparkan target bahwa reaktor pertama yang akan ditelurkan oleh TerraPower dengan karakter traveling wave reactor pada tahun 2020. Target yang cukup membuat shock para desainer senior jepang yang hadir saat itu, terlebih beberapa diantara mereka pun punya ‘desain reaktor’ sendiri yang telah matang dari sisi ilmiah dan menunggu untuk dikomesialkan.

Ilmuwan Indonesia sebenarnya terlibat aktif dalam proses kulminasi desain CANDLE reaktor di Lab. Sekimoto sejak awal tahun 90′an, bahkan melibatkan dua generasi ilmuwan-ilmuwan nuklir Indonesia (guru dan murid melakukan penelitian di bawah bimbingan Prof.Sekimoto), bahkan Prof.Zaki Su’ud , setidaknya pada tataran ilmiah, menawarkan konsep ‘modified CANDLE’ yang membuat reaktor ini dapat diaplikasikan dengan kekuatan material saat ini.

Menarik bagaimana kita menyaksikan berkumpulnya momentum dan kapabilitas, semoga disaat momentum itu datang kita punya kemampuan yang memadai. Hmm.. atau kita kejar kapabilitas yang bisa mengundang momentum untuk duduk, bicara,  kemudian berlari bersama.

 

Comments (2) »

Karena Toyota adalah Jepang..kita?

Semester lalu Obara Lab.  meluluskan seorang doktor. Dr.Takezawa yang menekuni bidang direct energy untuk menghasilkan laser dari reaksi fisi merupakan doktor pertama jebolan lab Obara. Sebelumnya banyak mahasiswa master lulus dibawah bimbingan Obara Sensei yang memang masih termasuk angkatan muda dikalangan sensei nuclear dept. tokodai. Sementara itu, lab Sekimoto, -yang boleh dibilang sebagai lab induk karena dari lab itu pula lahir Obara sensei- juga meluluskan mahasiswa doktor dan seorang master. Berbeda dengan lab Obara  yang meluluskan doktor pertamanya, Dr.Ishida dari lab Sekimoto  justeru adalah doktor terakhir dari lab tersebut karena Sekimoto sensei akan pensiun dalam waktu dekat.

Yang menarik  dan menjadi bahasan postingan ini terkait tiga orang lulusan diatas, 2 doktor dan 1 master, adalah follow-up setelah mereka lulus kuliah. Takezawa-san berkarir di Mitsubishi Heavy Industry bagian reaktor tipe PWR, Ishida-san menjadi peneliti di Japan Atomic Energy Agency (JAEA) masih terkait dengan desain reaktor maju yang ia geluti pada studi doktoralnya, dan sang master berkiprah di TEPCO (Tokyo Electric Power Company) sebuah perusahaan yang mensuplai kebutuhan energi kota tokyo, yang mayoritas sumber energinya berasal dari PLTN yang berada di sekitar tokyo. Read the rest of this entry »

Comments (4) »

Interaksi Neutron

Leave a comment »

Reaksi Nuklir

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.